8408000053_080742cf46_c

http://www.mobgenic.com/2013/04/22/mbaru-niang-arsitektur-tradisional-khas-manggarai-yang-masih-tersisa/

Rumah Adat Mbaru Niang Ruamah adat Flores merupakan rumah tradisional salah satu suku Manggarai yang mempunyai bentuk seperti topi kerucut yang hanya dapat kita temui di desa Wea Rebu, pulau Flores Nusa Tenggara Timur.

Rumah adat Flores ini hanya tinggal 9 unit, desa Wea Rebuo sendiri terletak di atas lembah yang dikelilingi pegunungan dengan hutan yang sangat lebat dan letaknya sanagat terpencil serta berada jauh dari desa-desa lainnya. Desa tersebut terletak pada ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut, dengan hawa yang cukup dingin.

1. Fungsi Rumah

Rumah Mbaru Niang sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal  keluarga, yang diperuntukkan bagi 6 – 8 keluarga yang membagi ruang pribadinya dalam sekat kamar di lantai satu. Mbaru niang terdiri dari lima lantai. berikut adalah susunannya :
Lutur atau lantai dasar, yang dipergunakan untuk tempat tinggal sang penghuni

  • Lobu berfungsi sebagai gudang tempat penyimpanan bahan makanan dan barang
  • Lentar berfungsi untuk menyimpan benih tanaman untuk bercocok tanam
  • Lempa Rea bergungsi untuk menyimpan stok cadangan makanan yang berguna di saat peceklik atau gagal panen.
  • Hekang Kode berfungsi sebagai tempat sesajen untuk para leluhur mereka.

Masyarakat Desa Wae Rebo merupakan masyarakat yang tat kepada adat dan tradisi warisan leluhur mereka, hal ini dapat dilihat dari pola hidup keseharian mereka dan semua aktifitas yang tidak banyak beruba . salah satu bentuk dari kekuatan tradisi penduduk desa Wea Rebo adalah arsitektur ruamah tinggala mereka yang masih sama dengan rumah nenek moyang mereka.

2. Bentuk Struktur

rumah adat mbaru niang ok

http://www.hdesignideas.com/2013/10/mbaru-niang-rumah-adat-di-pulau-flores.html

Ruamh adat Wea Rebo berbentuk kerucut dengan atap yanag menjuntai hampir menyentuh tanah yang terbuat dari daun lontar, dan struktur lantai yang menggunakan struktur panggung.

Kontruksi bangunan rumah ini menggunakansistem pasak dan pen yang kemudian di ikat menggunakan rotan sebagai.


3. Proses pembangunan dan penggunaan bahan padarumah Mbaru Niang
  

mbaru-niang

https://bloodydirtyboots.wordpress.com/2015/01/04/floating-in-flores-sweet-smile-of-wae-rebo-village/

Membangun sebuah mbaru niang, masyarakat Wae Rebo mempersiapkannya hingga satu tahun, karena keseluruhan bahan bangunan diambil secara bijaksana dari hutan yang mengelilingi kampung wae rebo. seperti kayu utama yang menjulang ditengah setinggi 15 meter, diambil dari satu pohon utuh, dan sebelum di pakai, kayu tersebut telah dipersiapkan secara tradisional agar menjadi kayu yang baik dan kuat (bingung menjelaskan proses mempersiapkan dari sebuah pohon utuh menjadi kayu gelondongan yang siap pakai) dan dipilih kayu yang cukup umur. selain kayu, masyarakat juga mengumpulkan bermeter-meter rotan untuk mengikat, ijuk dan alang-alang untuk atap dan bambu. seluruh bahan ini dipersiapkan dan dikumpulkan sedikit-sedikit sesuai yang disediakan alam yang dapat diambil secara bijaksana oleh masyarakat.

Pondasi dari mbaru niang terdiri dari beberapa bilang batang kayu yang ditanam ke tanah sedalam 2 meter. terdapat permasalah pondasi pada bangunan lama, yaitu kayu yang membusuk karena lembab atau rapuh, sehingga tak kuat menahan keseluruhan bangunan rumah. seiring dengan kedatangan tamu dan beberapa masukan dari ahli, pondasi mbaru niang sekarang dibungkus dengan plastik dan ijuk untuk melindungi kayu bersentuhan langsung dengan tanah wae rebo yang lembab.

  • Lantai Pertama

lantai pertama ini berdiameter 11 meter, dan merupakan lantai utama, dimana disinilah kehidupan sosial masyarakat berlangsung. lantai pertama ini dibuat segera setelah pondasi selesai dilaksanakan, berlandaskan balok-balok dan hamparan papan kayu dan dikelilingi glondongan rotan besar sebagai dudukan utama atap. Di atas lantai pertama inilah didirikan tiang utama hingga kepucuk mbaru niang / Ngando yang dilngkapi dengan tangga bambu untuk menaiki setiap tingkatnya.

  • Tiang Utama / Bongkok

Tiang utama berdiri diatas lantai pertama. untuk menyangga tiang utama ini, ditahan dengan tali rotan yang diikatkan pada tiga hingga 4 pasak.tiang utama ini akan menjadi penyangga dari keseluruhan aktivitas pembangunan rumah, sehingga harus sangat diyakinkan ikatan pada pasaknya benar-benar kuat.

  • Penyangga Dinding dan dinding (atap)

Penyangga dinding yang sekaligus berfungsi sebagai atap ini adalah kumpulan rotan dalam satu ikatan, ukurannya sangat besar, dan panjangnya disesuaikan dengan keliling lingkaran, jadi yang paling panjang adalah pada lantai satu, sepanjang 34,54 m (keliling lingkarang = 2 phi  r) dan semakin keatas semakin pendek. kumpulan rotan inilah yang membentuk bulatan pada mbaru niang.

selain kumpulan rotan besar itu sebagai penyangga utama, ada juga bambu-bambu / buku bambu yang berfunsi sebagai ‘reng’ atau penyangga yang mengikat sekumpulan-kumpulan ijuk atau alang-alang yang disusun bergantian

  • Pekerjaan Lanjutan

Setelah lantai pertama dan tiang utama berdiri, pembangunan tiap-tiap lantai akan menyesuaikan, dibangun secara simultan dari lantai terbawah, terus hingga keatas. setelah keseluruhan struktur utama selesai, hingga bambu-bambu pengikat atap siap, barulah pemasangan ijuk dan alang-alang dilakukan untuk menutupi keseluruhan rumah. 

4. Ornamen-Ornamen Yang Khas

Tidak terdapat ornamen-ornamen yang khan pada rumah Baru Niang, bagian luar bangunan hanya trlihat seperti krucut yang beratap ijuk, dan memiliki beberapa pintu dan jendela.

  1. Makna dan filosofi

Baru Niang bukan hanya sekedar tempat berlindung dari hujan dan gangguan dari luar. Bagi suku “anggarai yang menghuni desa Wea Rebo,” Baru Niang” merupakan wujud keselarasan manusia dengan alam serta merupakan cerminan fisik dari kehidupan sosial warga desa Wea Rebo

Konon dulunya leluhur suku “anggarai yang bermukim di dataran Flores memiliki delapan orang peWaris, Oleh karena itu terdapat delapan suku yang tersebar di dataran Flores. Namun leluhur mereka saat itu tidak membangun delapan rumah untuk dihuni oleh masing-masing kepala keluarga. Hanya terdapat tujuh buah “Baru Niang yang masing-masing “Baru Niang dihuni oleh tujuh keluarga dari setiap suku. Tujuan para leluhur terdahulu adalah agar sosialisasi antar suku semakin erat dan dapat terus terjalin hubungan antar tiap keluarga.

Iklan