20150425_141958

Desa Bayung Gede termasuk desa kuno di Bali yang hingga sekarang masih dijaga kelestariannya dan merupakan warisan budaya nenek moyang Desa Bayung Gede. Desa ini berada di ketinggian sekitar 900 meter diatas permukaan laut (dpl) sehingga berhawa sejuk. Lokasi dari desa bayung gede sendir berada di kecamatan Kitamani, kabupaten Bangli, lokasinya sendiri berada kurang lebih 45km timur laut kota Denpasar dan 35km utara pusat kota Bangli. Warga desa yang ada disini kebanyakan menggantungkan hidupnya kepada alam, dalam arti menjadi petani yang mengelola lahan pertanian kering disesuaikan dengan iklim yang ada.

1. BUDAYA MASYARAKAT BAYUNG GEDE

Desa Adat Bayung Gede memiliki jumlah penduduk sebanyak 2041 jiwa dengan 501 kk yang terdiri dari laki-laki sebanyak 1045 orang dan perempuan 955 orang. Kehidupan masyarakat Desa Adat Bayung Gede sebagian besar berprofesi sebagai petani.

Tipe pemerintahan Desa Adat Bayung Gede mengikuti pola “lulu apad” (struktur desa adat) yang didasarkan dari waktu pelaksanaan upacara parebuan (perkawinan). Dan memiliki sistem kepimpinan desa adat bersifat kembar, dimana pimpinan desa adat dipegang oleh dua orang jero kubayan, yaitu Jero Kubayan Mucuk dan Jero Kubayan Nyoman. Kedua orang pemimpin desa adat ini dibantu oleh saih nembelas dalam menjalankan tata kehidupan adat istiadat desa. Dilihat dari tata cara pengangkatannya,saih nembelas ini didasarkan pada tegak desa adat (lulu apad). Kriteria penempatan orang atau anggota masyarakat dalam kategori lulu apad ini adalah berdasarkan waktu mereka melaksanakan upacara perebuan(ngaturang bakti ke pura Tri Kahyangan) dan mamitin desa (keluar dari kategori “sebel urip”). Syarat pengangkatan pimpinan desa adat ini memiliki beberapa pengecualian, yaitu walaupun secara tegak desa orang atau anggota masyarakat telah menyandang predikat saih nembelas, bila orang tersebut memiliki cacat fisik maka pengangkatannya akan dibatalkan dan digantikan oleh anggota di urutan berikutnya. Posisi pimpinan desa adat ini secara sosiologis bersifat kolektif. Posisinya sebagai pimpinan desa adat akan digantikan atau diberhentikan apabila anak terkecil sudah menikah atau istrinya meninggal dunia. Sebagai imbalan atas jasa dan jabatannya sebagai prajuru adat, kepada mereka diberikan hak kelola atas tanah laba pura yang diistilahkan dengan “bukti”. Bukti ini akan dicabut kembali apabila mereka telah berhenti menjabat sebagai saih nembelas, dan akan diberikan kepada mereka yang menggantikannya. Agama yang dianut oleh masyarakat Desa Bayung Gede sebagian besar adalah agama Hindu. Ini dikarenakan desa ini adalah desa kuno sehingga keasliannya masih terjaga hingga kini.

Budaya lain yang terdapat di bayung gede adalah perang suren, perang ini merupakn perang yang diadakan oleh masyarakat Desa Bayung Gede yang diadakan setiap 5 tahun sekali, tepatnya pada sat karya/piodaln ngusaba kapang di pura dalem. Perang ini diikuti oleh anak-anak muda Desa Bayung Gede yang belum menikah, sebagai simbul kebersamaan.

Budaya lainnya yang tidak kalah uniknya adalah dalam sistem pernikahan masyarakat setempat, masyarakat luar yang ingin memperistri masyarakat dari bayung gede diwajibkan kedua mempelai baik pria maupun wanita berkewajiban mas kawin ke pada Desa. Maskawin tersebut berupa 2 ekor sapi dari masing-masing mempelai yang nantinya diserahkan pada masyarakat desa. Sapi yang di serahkan tersebut nantinya akan disembelih dan dibagikan kepada seluruh masyarakat desa.

2. ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL MASYARAKAT BAYUNG GEDE

Kawasan Desa Bayung Gede merupakan salah satu kawasan kontervasi desa tradisional di bali. Disamping kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat dengan tetap menjaga tradisi dan adat-istiadat dari secara turun-temurun, sehingga bangunan-bangunan tradisional masih banyak sekali terdapat di desa ini.

Pola pemukiman masyarakat Bayung gede sendiri menngunakan pola liner yang acak, untuk pemukimannya sendiri masing-masing rumah memiliki pola yang sama namun arah orintasi yang berbeda-beda. Kepercayaan masyarakat Bayung gede yaitu menggap bahwa arah jalan merupakan arah teben (tidak suci), sedangkan area yang jauh dari jalan merupakan area yang suci.

1

Pola pemukiman masyarakat Bayung Gede

EHDD

Orientasi hulu teben rumah tinggalmasyarakat Bayung Gede

Hal unik lainnya yang terdapat pada pemukiman penduduk di desa Bayung Gede adalah sirkulasi dan akses dari dan menuju masing-masing rumah. Akses utama adalah jalan besar yang dapat di akses dari arah pura Bale Agung ataupun jalan utama di luar desa . Jalan tersebut berukuran cukup besar dengan dan dibuat dengan susunan batu-batu alam. Dari jalan utama tersebut akses untuk menuju masing-masing rumah dapat melewati sebuag gang yang tidak lebih dari 1 meter, akses ini terdapat tiap beberapa rumah yang merupakan akses menuju rumah-rumah di luar jalan utama.

20150425_14200420150425_140233

Akses jalan utama dan akses menuju masing-masing rumah

  • Bangunan umah / rumah

Rumah-rumah yang berada di desa Bayung Gede Sendiri sangat berbeda dengan rumah-rumah lain tradisional bali pada umumnya, yang menggunakan pola natah dan terdiri dari banyak bale, mulai dari bale daje, bale dauh, bale dangin, bale delod, paon, jineng dan merajan. Rumah tradisional masyarakat Bayung Gede sendiri hanya terdiri dari tiga bangunan saja yaitu paon/dapur, bale, jineng dan merajan.

Drawing1_1_33_1478.sv$-Model

Lay out rumah masyarakat Bayung Gede

Rumah tradisional masyarakat bayung gede, sudah sejak turun temurun menggunakan hanya terdiri dari tiga bangunan saja, masyarakat setempat dalm membangun rumahnya terlebih dahulu harus melengkapi ketiga bangunan tersebut, kemudian setelah ketiga bangunan tersebut ada, baru boleh membangun bangunan baru pada area bangunan tambahan di bagian selatan, dengan fungsi bangunan sesuai dengan kebutuhan.

20150425_134544

Merajan

Merajan meruakan area suci yang ditempatkan pada area hulu, merajan sendiri pada rumah masyarakat Bayung Gede hanya terdiri dari dua pelinggih, yaitu pelinggih kemulan dan taksu. Namun ada beberapa pelinggih yang lebih dari satu terjadi beberapa perubahan dalam strata sosial dan ekonomi.

14301389989701430139015647

Paon / Dapur

Paon difungsikan sebagai area untuk tempat memasak, bangunan paon sendiri merupakan bangunan bale saka 6 yang dibagi menjadi dua fungsi ruangan. Bagian ruang di sebelah utara difungsikan sebagai area tempat tidur, sedangkan sebagiannya lagi difungsikan sebagai tempat memasak.

bsbv

denah dapur

Selain sebagai tempat memasak, dan tempat tidur sehari-hari, dapur juga difungsikan sebagai tempat upacara. Pada upacara kematian, dapur difungsikan sebagai tempat peletakan mayat sebelum dilakukan penguburan. Segala upacara yang yang berhubungan dengan pitra yadnya biasanya dilakukan di area dapur.

1430139001459 1430142245732

Tampilan eksterior dan ieterior dapur

Keunikan lain dari bangunan dapur yang ada di Desa bayung gede ini adalah penggunaan material bahan penutup atap bangunan, yaitu menggunakan material bambu. Sebagian besar bangunan dapur yang ada di desa ini menggunakan atap bambu, yang disusun berjajar merupai sirap. Struktur menggunakan kayu, sedangkan bagian dinding ada yang masih menggunakan tanah liat, dan ada juga yang sudah menggunakan batako dan semen

Bale

Bangunan yang difungsikan sebagai bale bentuknya hampir menyerupai dapur, namun difungsikan sebagai tempat tidur dan sebagai tempat kegiatan upacara keagamaan. Bangunan ini merupakan bangunan saka 6, pada setiap rumah tidak semua memiliki bale ini tergantung pada kemampuan pemilik rumah apabila memiliki kemampuan secara ekonomi baru melakukan pembangunan bale daja saka 6.

wvave

Denah bale

1430139009318 1430138988498

Proses pembangunan bale

Jineng

Masyarakat desa bayung gede kebanyakan berprofesi sebagai petani, sehingga hasil-hasil dari pertanian tersebut harus dibuatkan tempat penyimpanan. Penyimpanan hasil-hasil pertanian tersebuat ditempatkan pada bangunan Jineng. Bangunan jineng merupakanbangunan saka 4 dengan bentuk atap limasan.

svw

Denah Jineng

Bangunan jineng yang terdapat pada desa ini terdapat dua tipe bangunan, yang pertama bangunan saka 4 dengan bagunan yang terbuka, ruang pada bagian atap difungsikan sebagai tempat penyimpanan hasil pertaninan dan bagian bawah difungsikan sebagai tempat upacara dan tempat duduk. Tipe bangunan yang ke 2 terdiri dadi 6 saka, dengan bangunan yang tertutup, sehingga semua ruang difungsikan sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian.

1430142213894 1430142231331

Sumber : Observasi lapangan 25 April 2015

Iklan