Gaya dalam arsitektur bali lebih menekankan pada ciri khas dari arsitektur bali, yang merupakan sebuah identitas dari arsitektur bali. Dalam arsitektur modern yang berkembang pada era sekarang ini gaya dalam arsitektur tradisional bali tidak sepenuhnya diabil, melainkan diambil sebagin. Sehingga walaupun bangunan dibuat lebih modern dengan fungsi yang lebih kompleks bangunan tersebut bisa mencirikan arsitektur bali, bila dilihat dari tampilannya. Beberapa gaya yang memberikan identitas yang kuat dalam arsitektur Bali diantaranya:

1. Bahan banguan

Bangunan tradisional bali pada umumnya sebagian besar mengambil bahan dari alam dan cirpada masing-masing bagian bawah(lantai), tengah(dinding) dan atas(atap)  menggunakan bahan yang berbeda sesuai dengan filosofi kepercayaan masyarakat bali yaitu konsep bangunan arsitektur tradisional bali di ibaratkan seperti pohon dimana pohon itu dapat di bagi menjadi 3 bagian yaitu akar/tanah, batang dan daun.

  • Bagian bawah yaitu akar : Dalam bangunan tradisional bali akar diibaratkan bagian rumah paling bawah(bebaturan dan undag). Pada bagian bawah rumah arsitektur tradisional bali terdapat pondasi yang membuat bangunan kokoh berdiri, pada bagian bawah juga terdapat lantai yang berfungsi sebagai tempat berpijak.
  • Bagian tengah yaitu batang : Dalam bangunan tradisional bali batang diibaratkan bagian trngah dari rumah yaitu dinding yang memberi penghubung antara bagian bawah dan atas rumah. Pada bagian dinding masing-masing daerah di bali memiliki keunikan ciri khas materialnya masing-masing. Bata merah memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan bata merah pada kebanyakan daerah lain di indonesia. Tanah liat di bali cenderung padat dan berwarna lebih merah sehingga warnanya solid dan halus. Selain itu, penyusunan bata bali biasanya menggnukanan siar ( jarak antarbatu) yang sangat kecil.
  • Bagian atas yaitu daun dan ranting : Dalam bangunan tradisional bali daun dan ranting diibaratkan bagian atas bangunan yaitu daun adalah penutup atap sedangkan ranting adalah struktur rangka atap. Atap tradisional bali memiliki kontruksi yang unik, yaitu bagian usuk/iga-iga di buat seperti gouble derajat yang sedikit berbeda. Material atap alam, contohnya dari bahan sirap bamboo dan alang-alang.

2. kejujuran Elemen dan Material Bangunan

kejujuran struktur ini erat kaitanya dengan konsepsi tri angga yang mengelompokan elemen-elemen bangunan menjadi tiga bagian, yaitu kepala-badan-kaki. Elemen-elemen bangunan yang di maksud:

  • Bebaturan ayau undag
  • Sesaka
  • Dinding,
  • Usuk, iga-iga dan raab
  • Bebaturan (kaki bangunan) dan undag (tangga)

Bebaturan dan undag merupakan elemen yang mempengaruhi proporsi dan skala pada bangunan arsitektur tradisional bali. pada dasarnya rumah bali terdiri atas beberapa fungsi yang bersifat terbuka. Kehadiran bebaturan dengan sopan akan memisahkan level antara bangunan dengan teman, atau hal-hal yang bersifat kotor dan bebas berkeliaran.

  • Tiang /sesaka

Keistimewaan lain yang sangat khas adalah kolom kayu yang di ukir, yaitu yang disebut dengan tiang/sesaka. Secara fungsional, kolom memiliki base kolom sebagai penguat. Base kolom ini biasanya dibentuk atau di ukir dengan indah.

  • Dinding

Bali memiliki keunikan ciri khas materialnya masing-masing. Bata merah memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan bata merah pada kebanyakan daerah lain di indonesia. Tanah liat di bali cenderung padat dan berwarna lebih merah sehingga warnanya solid dan halus. Selain itu, penyusunan bata bali biasanya menggnukanan siar ( jarak antarbatu) yang sangat kecil. Ciri khas dari dinding juga bisa dilihat dari perpaduan antar warna merah ( batu bata) dan abu-abu (paras) yang sangat dominan.

  • Atap

Atap tradisional bali memiliki kontruksi yang unik, yaitu bagian usuk/iga-iga di buat seperti gouble derajat yang sedikit berbeda. Material atap alam, contohnya dari bahan sirap bamboo dan alang-alang. .( Arrafiani, Fiana,Rakhamania. 2012. Rumah Etnik Bali )

Iklan